Senja kini berbeda dari biasanya. Air telah menguap menusuk awan kelam gulita, menjadi embun yang menetes perlahan namun pasti. Membasahi pijakan-pijakan langka menggema merasuki telinga. Gelegar dahsyat tiada henti, menyambar cepat kilat dalam keheningan jiwa sunyi sendiri. Memompa diri dengan letupan-letupan keras menggelombang, menyirat tepat mata hati aliran sudut-sudut nadi mengalir. Aku termenung akan ke Agungan Illahi Robbi, hujan senja yang begitu menggempa tiada tara. Di saat diri ini sendiri, mata, telinga, nafas, nadi semua menyatu cepat kilat kedalam memory yang sangat mengemis dalam senyap.
Gubuk yang begitu senyap, sunyi tanpa seorangpun berada didalam sangkar keindahan semu yang tak mampu dalam terka logika. Ya, aku terperangkap dalam penjara sangkar semu yang begitu kuat, didalam gubug indah semu selama ini. Penjara sangkar semu ini telah menyihirku dalam pergulatan dahsyat yang tak biasa tiada tara. Aku pun berkutat dengan pergulatan yang terjadi sekuat diri ini untuk melawan jiwa-jiwa ego dan berkuasa dalam segala hal, yang telah dibutakan oleh harta yang sangat mahal harganya yaitu uang. Wouw...ternyata dunia ini lebih sama seharga uang yang sangat mudah untuk dibeli dan bagi lolongan jiwa-jiwa penggila harta dunia.
Aku pun tak menyangka atas pergulatan yang aku hadapi selama ini. Malam semakin suram dan kelam dalam balutan hitam pekat tanpa pancaran sinar sedikitpun, sedangkan siang menjadi kelambu yang kencang dan dahsyat hingga sinar cahaya tak mampu menembus gelap kelam sangkar semu keabadian. Sendiri...kini aku pun semakin sesak akan hujan leabt dalam balutan semu ini. Balutan tajam yang tak mampu menerka dalam segar aroma tanpa duri. Mawar laju menjadi lebih sayu tanpa siraman pupuk yang bermanfaat dan air setiap harinya, kini mawar telah layu ditinggal pergi oleh penghuni rumah yang bersahaja dalam kesederhanaan yang berwibawa. Sendiri...kini benar-benar dalam kesendirian yang begitu hanyut dalam ombak samudra. Dingin beku menusuk relung jiwaku bersama tetesan air hujan yang turun ke bumi dengan dahsyat dan seras. Hujan senja yang sangat ku rindukan beberapa hari ini, begitu syahdu dan kelam menemaniku yang kini terombang-ambing tanpa arah.
Senyap dingin ini, kini menjadi imajinasi diriku dalam kelam sangkar semu keabadian ini. Hujan yang setia, walalu sendiri dalam keheningan malam. Gubug yang tak lagi kokoh, atap runtuh sedikit demi sedikit, anmun aku harus bertahan atas semua ketidakmungkinan ini. Gubug lama ini adalah peninggalan buyutku, hujan pun dengan garang telah merobohkan atap gubug tua ini. Aku hanya mampu menatap tanpa mampu menopangnya lagi, diriku terlalu kleam dalam gelap selama ini. Dimanakah diriku kini berada? Apakah kalian selalu mendengar teriakanku? Selama ini aku bodoh, begitu bodohnya hingga mampu terkoyak oleh lolongan jiwa-jiwa dahsyat diluar sana. Kini aku hanya mampu menopang yang masih kokoh gubug tua ini. Maafkan aku, jika selama ini gubug tua ini telah ku tinggalkan tanpa jejak, yang kini hanya tersisa puing-puing kamar yang kokoh ini.
Mojokerto, 20 April 2012
Pukul 05:00 pm
Sabtu, 21 April 2012
KESENDIRIAN HUJAN SENJA
Diposting oleh LOVELY HONEY di 19.24
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar