Jumat, 04 Mei 2012

Senyuman kecil tuch tak mampu untuk aku pertahankan lagi, kau telah emngubah duniaku yang selama ini kelam gelap sunyi tanpa mampu untuk aku pertahankan lagi, namun kehadiranmu telah mampu mengubah dunia gelap ini menjadi senyuman yang begitu berarti dan mampu untuk diraih dengan usaha yang pasti dan bermanfaat. gadis kecil berusia 1 tahun 8 bulan ini telah mampu menyulap sangkar emas gelap keabadian menjadi sangkar emas cahaya keabadian yang menyihir semua orang ada di sekitarnya. Aku hanya mampu menyayat lukaku dengan kehadiran cinta yang kau berikan pada semua orang, gadis kecil yang maaasih anak-anak ini adlah anugrah yang tak mampu utnuk aku berikan pada orang tuaku selama ini, dia adalah sajian atas sebuah kesabaran meraih kebahagiaan yang tak pernah aku kira selama ini, Ayah dan ibu dia adalah cucu pertama kalian yang tidak dapat lagi kalian lihat di dunia ini. Kalian hanya mampu melihatnya di alam fana sana untuk selamanya, cucumu selalu saja menanyakan kalian selama ini Ayah dan Ibu, namun aku tak mampu untuk mengatakan padanya apa yang terjadi selama ini sesungguhnya. Dia adalah cucu yang hampir sama dengan ibu selama di dunia ini, sifatnya yang begitu bersahaja dan dermawan menurun dari ibu yang selalu sabar emnghadapi orang-orang tidak berperikemanuasiaan di dunia ini selama ini. Cucumu mampu menyatukan keluarga yang selama ini terpecah belah ayah dan ibu,  dia selalu membuat orang yang bertemu akan tertawa akan tingkahnya, dia udah bisa bicara dan mengaji, dia juga mampu menirukan tingkah laku orang-orang yang ada di sekitarnya  tanpa pernah di ajari. imajinasinya juga begitu tinggi, semoga Ayah dan Ibu senang ya disana bisa melihat cucu pertama yang mampu mengalihkan dunia kelamku selama ini ^_^.

Setiap hembusan ini, kau begitu menyuguhkannya hingga menjelma dalam alunan memory yang tak mampu ku raih dalam sekejap jiwa, mengais gelombang samudra tiada tara dalm keheningan senja jingga.

Rindu nie semakin kelam, aku tak mampu mengasah memoryku yang udah terpatri hanya untukmu seorang. 

Wahai kau yang di sana, mampukah merasakan rindu tajamku ini? Aku di sini masih setia untukmu, agar qt mampu merajut benang kusut menjadi sulaman kanvas yang begitu abstrak imajinasi.

Angan mimpi nie adalah buaian sahaja jiwamu yang mampu menyanggah lukaku selama nie, aku tertatih menyentuh ragamu yang mengalun merdu mataku selama nie. ^_^

Malam tak mampu ku raih, pagi senja menjelma jiwa ini, aku terbuai alunan pandang dirimu, meronta-ronta pelangi mata ini, memory menari lembayung lunglai kehidupan abadi, aku tertatih mengenal cinta semu tiada tara.

Duhai cinta kabar apa yang kau beri untukku? Aku ingin senyumnya menusuk relung-relung ragaku, agar aku mampu terbuai mimpi samudra karang cintanya yang begitu dahsyat menggelombang asmara jiwa nie, cinta.

Mentari menyusup dari peraduan kelam menyongsong hidup senyum cahaya, kicauan silih berganti mendendang mata menyeruak mimpi bintang malam menggema sayatan memory mengasah telinga mengadu merdu harum embun sirna pagi menjelang ^_^

Sayup sayup menyeruak embun pagi, perlahan menusuk mata memaki telinga menikam memoryku tanpa mampu berkompromi, beranjak dan berkasih sayang kepada Sang Illahi Robbi ^_^

Awan kelam mengembun, meneteskan perlahan ke pijakan bumi tanpa persetujuan siapapun, perlahan menyanyat&merobek awan tanpa ampun pasti, siap2 kelam hanyut sayu menyapa ruang sangkar gelap keabadian tanpa celah sedikitpun. ^_^

Senyuman kecilmu mengalihkan duniaku yang remang-remang selama nie tanpa seorangpun mendampingiku

Semangat y, mimpimu msh panjang untuk kau raih skrg, butuh perjuangan ekstra mendapatkan hasil yang kau inginkan.
*edisi mencambuk&memarahi diri sendiri ;)

terpaku dalam kebisuan yang mendalam tanpa sanubari jiwa menyelidiki raga yang tertatih dalam samudra hidup keabadian ^_^

Malam menjelang pagi nie, tak seperti biasanya kamu pulang untuk beristrht di gubug tua sangkar emas kelam keabadian, walau aku tau bahwa nie bukanlah dirimu yang selama nie, ada apa kamu pulang? Masihkah kamu menganggap aku ada di sini?

perjuanganmu akan dimulai malam ini kawan, ayooooooooo semangat menghadapi semua impian dan anganmu kawan.........
jangan sia-siakan kesempatan ini kawan, kau harus menunjukkan bahwa kau adalah orang yang pantang menyerah ^_^ Sparkling HeartZilian Zahra Arjawani dan Mas Abu Waswas

Aku tenggelam dalam mengarungi samudra kehidupan, menguap uap di kedalaman laut paling tinggi, tertatih menarik dan mengayuhkan tenaga yang hampir tenggelam, mengganggu hangatnya syahdu memory terpatry, mengais nadi-nadi mengalir dahsyat menyengat hati ini selamaya.

Embun di ujung pelipis mengalir tanpa pernah diminta sdikitpun saat nie, mengoyak sayatan belati tanpa mampu terukir indah dalam buaian angan tak terkesima aroma menyengat sangkar emas gelap keabadian, tertatih menyongsong jiwa terkulai hempasan gelombang dahsyat lembaian gelombang samudra.

Sinar matahari menyayat mata yg udah perih sekali ini >,<

tersungkur dalam senja tanpa makna, mengoyak jiwa tertatih sukma belaka, mengusap ejaan di setiap helaan raga, hempasan mengasuh mata dalam sekejap, menyusuri duri dengan lihainya memory terpatri mengasah belati hati tanpa perih berarti, memporak porandakan jembatan karang angin yang tersimpan rapi... -with Sparkling HeartZilian Zahra Arjawani dan Mas Abu Waswas

tersungkur dalam senja tanpa makna, mengoyak jiwa tertatih sukma belaka, mengusap ejaan di setiap helaan raga, hempasan mengasuh mata dalam sekejap, menyusuri duri dengan lihainya memory terpatri mengasah belati hati tanpa perih berarti, memporak porandakan jembatan karang angin yang tersimpan rapi... -with Sparkling HeartZilian Zahra Arjawani dan Mas Abu Waswas

Tak mampu kurangkai kata dalam balutan semumu yang sangat dalam, hiasan corak yang begitu setara dengan abadinya jiwa, torehkan sukma lembayung yang sangat rancu, menguap tanpa mampu menerjang ombak, ku terseungkur dasar lautan tanpa pasir, mengolah dunia menjadi sebuah kesusatraan tanpa ejaan, kicauan merdu mnedayu angan angin.

Rindu mengelabu angan kelam kehidupan
Kelopak mawar mengharum lembut mata
Duri menusuk relung jiwa tiada henti
Tafakur menguasai raga ini pada Sang Illahi Robbi


Selasa, 24 April 2012

RINDU TERHEMPAS

Malam kelam tanpa bintang
Rembulan menjelma sua tanpa aksara
Hempasan sepoi mengalun jiwa
Tertatih senja sua sempaka
Sayu mengalun mata terhempas
Duri kemalangan menelan raga
Rindu...menjadi bongkahan kelopak bunga
Sayup menjelma pelangi suram
Purnama kelam akan ujung hati mencair sayup
Duka menjelma kicauan memory
Tertatih jalanan mengguncah raga
Rinduku terhempas lepas tanpa aksara
Kemana langakh tertatih?
Senyap gulita tanpa sua selamanya

Mojokerto, 24 April 2012

Senin, 23 April 2012

AIR

Dalam hening dan sunyi, suaranya begitu tenang dan menyejukkan tiada tara. Kau selalu setia disetiap roda kehidupan dunia yang tiada henti. Setiap detik, aku sangat bermanfaat dan sangat berguna untuk insan yang bergerak maupun mati. Kau seperti jiwa raga yang tak mampu tergoyahkan oleh kehidupan yang ada disekitarmu selama ini. Kau begitu hebat, kehidupan yang adapun sangat terkalahkan akan hadirnya dirimu, air. Air yang begitu tenang dan bersahaja, namun akan menghanyutkan apabila tersentuh oleh lolongan insan jiwa raga yang terajmah dahsyat keras dan badai.

Air, kau selalu menjamah semua kehidupan yang berputar seperti bola ini tanpa terkecuali sedikitpun dan tanpa terlewatkan, walau celah kecil tersembunyi dan sempit sekalipun. Aku pun terhuyung keras, ketika kau menghilang dari kehidupanku, walalu hanya sedetik saja. Air kau selalu mengalir tanpa pernah emngeluh utnuk berhenti dari aktivitasmu selama ini. Celah-celah sempit tanpa ada ruang untuk bernafas, kau lalui dengan nyaman dan indah tanpa perlu bersusah payah menyapu jiwa-jiwa kering dan gersang ini. Wouw...jiwa gersang dan kering! tanpa tersadarkan oleh siapapun dan dimanapun semua berada. jadi bergidik sendiri apabila kata gersang dan kering menjadi terngiang-ngiang dalam memoryku ini.

Air...kau tak pernah marah yang lebih dahsyat gempa gelombang tiada tara, kehidupanlah yang mampu membuatmu dahsyat gelombang gempa karena ulah lolongan jiwa-jiwa bencana dalam hati kehidupan.
Air...kau mampu menenangkan jiwa-jiwa gersang dan kering hanya dengan sekali basuhan saja, membawa ketenangan bagi jiwa-jiwa kesepian, sunyi dan hampa selama ini.
Air...kau selalu menyelami kehidupan dari kehidupan yang kecil hingga ke perantauan yang begitu besar dan luas. Kau mampu membeku dalam kehidupan diujung malam tanpa diminta sedikitpun oleh siapapun.

Air...kau begitu bening dan bersih, tanpa ada campuran sedikitpun. Namun di tempat lain, kau menjadi bermacam dan beragam warna, ntah ada campuran zat kimia maupun alami warna airmu itu. Kondisi disekelilingmulah yang  mampu membuat warna airmu berubah. Ternyata, lingkungan sangat begitu berarti air walalu kau tak pernah meminta dan disetujui oleh siapapun.
Air...adakah rindu terdalam untuk pergi dari kehidupan lolongan jiwa-jiwa terpatri ini? Jangan! kau jangan pergi air...apabila kau pergi, kemanakh aku akan tenang menjalani kehidupan ini. Ketenangan yang mampu menyejukkan dan mengalir merdu melalui alunan mata yang begitu perih dan senyap ini, hingga mampu diterima oleh sinyal-sinyal memory menuju pikiran yang turun ke hati secara perlahan namun pasti, tanpa ada cacat dan celah akan benang-benang kusut kehidupan.

Air mengalirlah apa adanya, tanap mampu tergoyah akan lolongan jiwa-jiwa tak berdaya tanpa sua dan aksara jaln garis kehidupan.
Air...aku ingin kau selalu bersamaku dalam kelam gulita malam.
Air tetaplah semangat untuk emnolong jiwa-jiwa sunyi, sepi dan senyap.
Air... tetaplah menjadi air yang terus mengalir tanpa meronta pada jiwa kering dan gersangnya kehidupan.
Air...jadilah jiwa raga yang penuh arti dalam kehidupan suka duka dunia putaran tiada henti ini.
 Air...kaulah segalanya tiada henti dan terpatri tanpa batas.
Air...ketenanganmumenyejukkanku dalam cahaya celah tersembunyi.
Air...kau adalah segala-galanya.


Mojokerto, 22 April 2012

EMOSI, PIKIRAN DAN HATI (IMAJINASI)

Gelombang dahsyat menggempar menghempas bumi menjadi bencana dahsyat tak terkira oleh akal logika manusia. Semua menjadi campur aduk tanpa pernah dapat mengontrol diri dalam kejadian seperti itu. Emosi yang begitu meluap siap meletus dalam larva gunung berapi yang akan mencair dalam sekejap yang telah penuh. Ya, seperti manusia yang mudah sekali untuk meluapkan emosi dimanapun tanpa mampu terkontrol oleh diri sendiri. Emosi yang seperti gunung merapi akan memberikan dampak negathive ke siapapun yang mendekatinya. Apakah dampak poshitivenya? Tidak ada alias nihil, semua orang akan kita, tanpa kita mampu untuk mengontrolnya seperti alat di sebuah rumahsakit yang digunakan untuk mengontrol pasiennya yang sakit dan membutuhkan pertolongan bertangan dingin dan bersahaja selama ini.

Dalam berbagai hal setiap kehidupan, pasti setiap insan memiliki daya pola tangkap pikir yang berbeda dalam menjalani kehidupan ini. Kehidupan yang banyak macamnya, seperti tumbuhan yang memiliki bermacam-macam warna, bentuk, karakter yang dapat memberikan aroma harum, bagi mereka yang dapat berpikir untuk menusuk semua ke dalam memory sudut telinga tanpa terkecuali. Pikiran manusia menjadi sajian yang berarti dalam roda aktivitas dunia tiada henti. Roda pedatipun tak akan mampu bergerak apabila tidak ada manusia yang emngendalikannya. Sama seperti pikiran manusia tak akan mampu berjalan apabila tidak ada Allah SWT yang emberikan skenario kehidupan fana ini.

Aliran listrik tak akan mampu teraliri tanpa ada kabel pusat yang berperan besar dalam pencahayaan dan kebutuhan manusia sehari-hari. Aliran listrik kabel ini adalah hati yang selalu dimiliki noleh jiwa-jiwa yang hidup dan mampu untuk mengenali diri mereka sendiri. Hati ini ternyata lebih berperan besar disetiap raga-raga kehidupan atas skenario yang harus dijalani semua insan yang hidup. Hati...menjadi sebuah boomerang yang mampu menyeruak dalam diri insan hidup. Hati yang mampu memberikan zat cinta pada jiwa dan raga yang harus bersatu apdu.

Kini semua rangkaian yang merupakan emosi, pikiran dan hati telah tersambung kabel-kabel kecil urat-urat saraf pada tubuh manusia. Ya urat-urat saraf nadi kehidupan yang mampu menyambungnya menjadi sebuah imajinasi tiada batas. Imajinasi yang mampu terukir dari hal paling sederhana hingga hal yang paling sulit sekalipun. Emosi, pikiran dan hati adalah hal paling penting yang harus mampu untuk dikontrol oleh pemilik dan pelaku yang menjalankan dirinya sendiri selama ini. Apabila salah satu rangkaian tak mampu dikontrol, maka rangkaian-rangkaian yang alin akan menjadi boomerang dahsyat gelombang samudra tsunami tiada tara dalam hidupnya.

Imajinasi mampu mengalir selancar listrik kecil dalm cahaya rembulan, dapat menyatukan emosi, pikiran dan hati dengan remote control yang baik berupa ikhtiar, tawakkal, doa dan usaha. Semua hal tersebut sangat berkesinambungan menjadi control panel yang begitu penting dan berarti pada layar komputer kita. Halah...apa ini coba yang aku tuliskan di sini? Terdengar bodoh dan aneh ternyata semua ini hehehe....

Namun inilah kenyataan yang mampu melahirkan imajinasi karya, yang dipandang sudut mata hati adalah tak penting dan tak berguna sama sekali. Imajinasi ini berawal dari emosi, pikiran dan hati yang menyatu bersatu padu untuk bekerjasama dalam aliran, langsung menghasilkan imajinasi yang mengalir seperti air hingga menjadi obat dahsyat tiada tara, yang menandingi obat dari dokter-dokter ternama di rumahsakit. Ayo imajinasi, kita bermain lagi agar emosi, pikiran dan hati mampu dalam keseimbangan dan ketenangan, agar karya bisa tertuliskan tanpa ada salah satu yang tersendat kerikil tajam. Wah, kalo salah satu ada yang tersendat, ntar kamu ngambek lama ini imjinasi dalam menulis karya. Susah dah ntar obat yang harus dicari ama kamu imajinasi, hehehe....

Mojokerto, 22 April 2012

Minggu, 22 April 2012

TERPANA

Cahaya pagi menyengat dahsyat
Menusuk celah gubug tua
Aku tertatih tanpa sua suara
Menyapa senyum akan kelam malam
Ku terkuak dalam mimpi malam tanpa aksara

Tertatih meraih angan tak pasti
Mengalun merdu pagi memekakkan telinga
Aku terhuyung sendiri pagi
Menguak kisah tanpa arti ini
Sunyi sepi menemani tiada henti
Aku tersungkur jatuh dalam

Terpana aku akan sosok itu
Disana dia menyaksikanku
Tanpa sua dan bayang menyatu
kelam menjadi peraduan abadinya
Terpana! tak mampu menguak aksara

Kini diriku terpaku sudut
Terpana akan hadirnya sampingku
Menjelajah jiwa melayang
Meraungi samudra hidup
Terpana tanpa busa sahaya
Tertatih letih terpana suam

Terpana tiada henti
Tanpa mampu menyongsong sosok abstrak
Terpana selam kerinduan mendalam

Mojokerto, 22 April 2012

AYAH

Malam hening kini ku terhuyung dalam hamparan angan yang terpatri oleh beningnya bintang menemani rembulan. Aku sendirian tanpa siapapun menemani di dalam gubug tua warisan Ayah ini. Mas kini lebih sering ikut istrinya diluar kota sana. Ayah, disaat aku kesepian seperti ini, kau selalu menemaniku dengan buaian lembut kasih sayangmu, yang selama ini tak pernah respect diriku ini akan kehadiranmu. Ayah, kau tak pernah mengeluh akan kesederhanaan hidup, kau selalu mengajarkan untuk tetap mensyukuri nikmat yang tiada tara dihadapan kita selama ini.

Ayah, sudah lama kau berada dalam hidup keabadian, yang ditemani oleh alam-alam bersahaja dalam peristirahatanmu. Ayah, aku tak pernah mengerti mengapa kau selama ini selalu mencegahku untuk mengikuti latihan ekskul di sekolah? Ayah tanpa pernah kau mengatakan alasan pastinya kepadaku, hingga membuat aku menjadi bingung dalam hidupku. Aku pun tertatih-tatih untuk mampu menggapai angan dan mimpiku yang tak pernah sepaham sama Ayah selama ini.

Ayah, aku ingin mewujudkan mimpiku, yang selalu berhasil kau pupuskan tanpa pernah memberikan alasan dan jawaban. Ayah tak ingin aku menjadi guru seperti anak-anak ayah yang lain, namun apa Ayah pernah tahu apa mauku? Bahwa selama ini, aku lebih sering membuat coretan pada buku pelajaranku, Ayah. Apa Ayah pernah mengetahui masalh yang selalu aku hadapi selama ini? Aku loebih sering menulis di buku diary secara sembunyi-sembunyi daripada curhat sama Ayah.

Ya, Curhat? Selama ini aku menjadi anak yang selalu dikucilkan oleh teman-temanku, Ayah. Hingga akhirnya, aku menjadi anak pendiam dan pemberontak, yang tidak pernah Ayah ketahui selama ini. Masih membekas dalam ingatanku Ayah. Ketika menginjak cawu terakhir kelas 2 SMP, Ayah sudah mulai tumbang dengan kondisi yang tidak seperti biasanya. Ayah terjatuh dalam sehat selama ini, Ayah pun sakit dan emmbutuhkan perawatan untuk kondisi Ayah. Kondisi Ayah membuatku menjadi anak labil yang tak terkontrol sama sekali. Aku pun menjadi geram tiada henti, melihat kondisi Ayah yang terkapar di kamar gubug tua ini. Anak-anak Ayah yang lain tidak ada yang peduli dan datang hanya sekedar untuk menjenguk Ayah saja.

Aku pun merutuki diriku tiada henti, aku meneteskan buliran-buliran yang mengembun dan mengalir ke pipi, ketika mendengar kecaman tak enak untuk Ayah dan ibu dari anak Ayah yang lain. Dengan keras mereka mencaci maki Ayah dihadapanku, yang membuat Ayah mengalirkan tetesan mata dalam ketidakmampuan untuk melihat lagi atas kondisi seperti ini. Ya, mereka memaki Ayah dihadapanku, yang membuatku semakin geram dengan sikap mereka.

Ayah yang sudah terhuyung dan terjatuh dari sehat, kini kondisi Ibu pun mengalami hal yang sama dengan Ayah. Aku pun semakin tidak jelas akan kelabilanku yang harus merawat Ayah dan Ibu secara bersamaan dan juga sekolahku yang makin padat menginjak kelas 3 SMP. Ayah dan Ibu seperti terhempas dalam lemparan keras yang tak mampu bertahan aku untuk menyanggahnya. Aku hanya mampu meneteskan embun di ujung pelipisku ini, yang di depan mataku terlihat jelas kondisi Ayah dan Ibu yang terhempas keras di atas ranjang tua di gubug tua ini. Hatiku ini ingin sekali teriak kencang dan keras, namun hanya tersendat dalam kerongkongan makma ini.

Ayah gubug tua ini adalah peninggalan satu-satunya yang terindah di dunia ini, yang mampu untuk meneduhkanku dari geraman, kecaman dan caci makian lolongan manusia tanpa jiwa  di luar sana. Semua kenangan tentang Ayah masih membekas dari memory kecilku di ujung sudut ini tanap ada goresan cacat luka sedikitpun selama ini. Ayah awal tahun semester 2 kelas 3 SMP adalah awal dan akhir aku dalam perjuangan menuntut ilmu dan merawat Ayah dari sakit yang udah lama menggerogoti tubuh renta tua Ayah selama ini.

Awal tahun di akhir bulan Januari 2004, pagi menyapa dengan cerah menyusup malu dibalik awan putih. Gubug tua yang biasanya cerah dan ramah menyambut, kini berubah kelam dan gelap tanpa mampu kuraih sedikitpun. Makin lama suasana gubug tua ini makin kelam dan suram tanpa semburat senyum sedikitpun. Aku yang seperti orang bodoh tak pernah mengerti apa-apa di usia labilku saat itu, semua orang menceracau tiada henti dan meneteskan embun-embun mata yang mengalir di pipi dengan sembab, sedu sedan menggema dan menggemparkan telingaku.

Aku hanya mampu terpaku menyaksikan tubuh diam terpaku di atas ranjang tua di dalam gubug tua ini. Apakah Ayah meninggal? Aku tak mampu menangis sedikitpun, aku hanya terpaku melihat orang-orang yang masuk ke dalam gubug tua tempat aku tinggal ini, melihat tubuh terbujur kaku tanpa raga, Ayah. Apakah aku bodoh atau aku tidak tahu diri? Semua berkecamuk dalam diriku saat itu juga, seperti orang linglung tanpa beban luka sedikitpun.

Ayah, kini aku hanya mampu mengenang semua yang telah Ayah berikan dan ajarkan kepadaku selama ini. Bahwa hidup ini keras dan berliku, apabila kau punya pendapat, tunjukkan bahwa pendapatmu tuch benar. Ayah, jiwa kerasku kini telah lunak oleh lingkungan dunia maya. karena kesepian akan kasih sayang dan cinta atas hidupmu selama ini, Ayah. Ayah, hatiku menangis tiada henti merutuki semua kebodohan dan kesalahankku padamu.

Ayah, aku belum mampu menunjukkan jati diriku selama ini Engkau hidup. Aku belum bisa menjadi anak yang mampu kau banggakan. 8 tahun sudah, Ayah meninggalkan hidupku selama ini di dunia. Namun, aku masih belum mampu menerka semua keinginan Ayah. Ayah, kau selalu memberiku teka-teki yang hingga kini tak mampu aku paparkan sedikitpun. Ayah, aku rindu, kangen dan kini butuh didikan keras Ayah selama ini. Ayah, apakah aku mampu menjalani kehidupan ini tanpa kehadiranmu, Ayah? Ayah tetaplah bersama dan temani aku di setiap malam-malam kesendirianku selama ini. Ayah tetaplah selalu mendampingi hatiku disaat aku terlelap terbuai mimpi malam tanpa asah. Ayah, kau begitu hebat telah membuatku tetap harus bertahan dalam kesendirian sunyi jiwa ini. Ayah, aku sayang padamu selamanya....

Mojokerto, 22 April 2012

Sabtu, 21 April 2012

KESENDIRIAN HUJAN SENJA

Senja kini berbeda dari biasanya. Air telah menguap menusuk awan kelam gulita, menjadi embun yang menetes perlahan namun pasti. Membasahi pijakan-pijakan langka menggema merasuki telinga. Gelegar dahsyat tiada henti, menyambar cepat kilat dalam keheningan jiwa sunyi sendiri. Memompa diri dengan letupan-letupan keras menggelombang, menyirat tepat mata hati aliran sudut-sudut nadi mengalir. Aku termenung akan ke Agungan Illahi Robbi, hujan senja yang begitu menggempa tiada tara. Di saat diri ini sendiri, mata, telinga, nafas, nadi semua menyatu cepat kilat kedalam memory yang sangat mengemis dalam senyap.

Gubuk yang begitu senyap, sunyi tanpa seorangpun berada didalam sangkar keindahan semu yang tak mampu dalam terka logika. Ya, aku terperangkap dalam penjara sangkar semu yang begitu kuat,  didalam gubug indah semu selama ini. Penjara sangkar semu ini telah menyihirku dalam pergulatan dahsyat yang tak biasa tiada tara. Aku pun berkutat dengan pergulatan yang terjadi sekuat diri ini untuk melawan jiwa-jiwa ego dan berkuasa dalam segala hal, yang telah dibutakan oleh harta yang sangat mahal harganya yaitu uang. Wouw...ternyata dunia ini lebih sama seharga uang yang sangat mudah untuk dibeli dan bagi lolongan jiwa-jiwa penggila harta dunia.

Aku pun tak menyangka atas pergulatan yang aku hadapi selama ini. Malam semakin suram dan kelam dalam balutan hitam pekat tanpa pancaran sinar sedikitpun, sedangkan siang menjadi kelambu yang kencang dan dahsyat hingga sinar cahaya tak mampu menembus gelap kelam sangkar semu keabadian. Sendiri...kini aku pun semakin sesak akan hujan leabt dalam balutan semu ini. Balutan tajam yang tak mampu menerka dalam segar aroma tanpa duri. Mawar laju menjadi lebih sayu tanpa siraman pupuk yang bermanfaat dan air setiap harinya, kini mawar telah layu ditinggal pergi oleh penghuni rumah yang bersahaja dalam kesederhanaan yang berwibawa. Sendiri...kini benar-benar dalam kesendirian yang begitu hanyut dalam ombak samudra. Dingin beku menusuk relung jiwaku bersama tetesan air hujan yang turun ke bumi dengan dahsyat dan seras. Hujan senja yang sangat ku rindukan beberapa hari ini, begitu syahdu dan kelam menemaniku yang kini terombang-ambing tanpa arah.

Senyap dingin ini, kini menjadi imajinasi diriku dalam kelam sangkar semu keabadian ini. Hujan yang setia, walalu sendiri dalam keheningan malam. Gubug yang tak lagi kokoh, atap runtuh sedikit demi sedikit, anmun aku harus bertahan atas semua ketidakmungkinan ini. Gubug lama ini adalah peninggalan buyutku, hujan pun dengan garang telah merobohkan atap gubug tua ini. Aku hanya mampu menatap tanpa mampu menopangnya lagi, diriku terlalu kleam dalam gelap selama ini. Dimanakah diriku kini berada? Apakah kalian selalu mendengar teriakanku? Selama ini aku bodoh, begitu bodohnya hingga mampu terkoyak oleh lolongan jiwa-jiwa dahsyat diluar sana. Kini aku hanya mampu menopang yang masih kokoh gubug tua ini. Maafkan aku, jika selama ini gubug tua ini telah ku tinggalkan tanpa jejak, yang kini hanya tersisa puing-puing kamar yang kokoh ini.

Mojokerto, 20 April 2012
Pukul 05:00 pm

SENYUM

Dalam kandungan, doa orang banyak.
Suara gema takbir fitri, memecahkan kesunyian malam.
Tangismu pecah ke dunia, semua tersenyum menyambut lembut.
Melati harum, di kerumuni semua orang.
Bintang dan bulan tersenyum malam indah merdu iut.
Tak sedikitpun, mataku terpejam dalam lelap.
Kabar menanti ponakanku tercinta.
Aku pun pergi, menemuimu dalam belaian tidurmu.
Ku timang penuh haru kasih sayang.
Kau tak mengizinkanku pulang.
Dengan erat, kau pegang lenganku.
Eranganmu, tak kuasa ku menahan kepergian.
Kini kau sudah jalan, seperti kelinci dalm hidup.
Tingkah lucumu…semua orang tersenyum lepas.
Keegoisan orang tuamu…kau berlari pasti kepadaku.
Setiap kata kau ucapkan, aku tersenyum manis.
Masih melekat dalam ingatanku, kau meronta tanpa henti.
Mawar…sampaikan sayangku padanya.
Bulan dan bintang selalu menemani tiada henti.
Matahari menusuk pasti relung raga ini.
Sinar pancaranmu…seperti sinar Ibuku.
Tak bosan ku menangis melihatmu, ponakanku tercinta. 

Mojokerto, 21 April 2012



TERJATUH JURANG KETIDAKPASTIAN

Facebook menjadi tolol bagiku
Tawaran 2 hari tanpa aku pikir
Motivasi dan tujuan tidak pasti
Makian diriku semakin parah
Bodoh, tolol mengapa kau terima?
Hujamanku tanpa henti
Hati dan pikiranku perang semalaman

Aku pun tak mampu lelap dalam mimpi
Ku rutuki raga ini tiada henti
Apa sih maumu?
Panas dan dingin bergejolak hebat
Aku pun tersudut dalam ruang sunyi
Kamar menjadi luapan emosiku
Tanpa mampu ku raih tangan ini

Dasar! hatiku berteriak keras
Ku maki diri bodoh ini
Mudah sekali kau percaya
Kini rasakan kau terjatuh
Terjatuh dalam jurang ketidakpastian
Tak akan ada yang mau menolongmu

Kemana aku harus berlari?
Tak ada tempat lagi aku mengadu
Facebook yang tidak menyenangkan
Kini kau dijadikan alat seenak mereka
Aku pun hanya mampu menangisi kebodohanku
Kebodohan akan ketidak pastian 2 hari ini

Cukup...kau telah seenaknya memainkan diriku yang bodoh
Aku hanya pengecut yanng mampu meratapi dengan tangis
Pengecut yang tak dapat mengambil tindakan
Teriaklah, aku hanya mampu diam.


Mojokerto, 21 April 2012

Rabu, 18 April 2012

CERMIN

Termanung dan terpaku dalam keterdiaman menatap diri sendiri di depan cermin. Benda yang tak pernah luput dari kehidupan sehari-hari manusia. Terasa hambar dan tanpa terpikirkan oleh siapapun. Kau yang setia dan tak pernah pudar oleh lekang waktu tiada tara. Kesetiaanmu tak mampu kau tampakkan selama ini. Tanpa emosi, marah, dusta dan hampir terlupakan oleh sebagian orang, namun kau tetap berdiri kokoh di tempat semula tanpa berubah sedikit pun. HEntakan demi hentakan manusia dalam menapaki jiwa-jiwa terpukau dunia, kau menjadi saksi bisu atas pilu dan canda tawa manusia. Kesetiaanmu begitu tiada tara, tanpa mengharap balas jasa manusia.

Diam...kau begitu terdiam, tanpa berontak oleh lolongan manusia tanpa arti dan tak bersahabat. Tanpa ku sadari selama ini, kau begitu berarti dalam setiap aktivitas kehidupan manusia. Mulai dari hal terkecil hingga jenis kesibukan super duper padat untuk kehidupan manusia. Aku pun lalai, untuk berterimakasih kepada kau wahai benda tiada tara.

Cermin...kini kau tersenyum manja, dalam kemarahan jiwa beradu hati untuk menarik simpati dan empati lingkungan tanpa terpatri sanubari raga-raga tak bernyawa. Hah? Raga tak bernyawa? Mengerikan sekali ya, Cermin? Hah, aku hanya berhalusinasi tanpa tersudut oleh kebijakan dan kedustaan tempoyang dalam botol tak berfungsi. Hahaha...kini kau bebas tertawa terbahak atas kebodohanku tuk terkoyak rasa, asa dan pikiran. Cermin...ku sandurkan diri ini dalam lembayung sahaja tanpa bersua. Terpuai asmara kerendahan lantunan merdu bunga anggrek tanpa warna. Lembut membuai aroma debaran dahsyat memukau decak keheningan kelam sendu.

Terbiasa syahdu mengukir angan-angan ketidakpastian balutan hidup, hanya untuk mempertahankan ego layu. Sungguh aneh aku ini, terlalu dalam menjelajahi istilah-istilah keingintahuan di setiap jejal-jejal penghirupan burung tanpa sayap. Merdu memukau di setiap nada-nada alunan rock, mencari nyawa-nyawa terpanas demi merasuki istilah yang tak mampu diterka oleh logika. Jiah...aku seperti menari-nari dalam balutan sinar bercampur jingga, menjadi jenjang-jenjang bangunan tanpa atap untuk berteduh. Kau berhasil menertawakanku terkapar dan terkujur di atas api malam, membara relung terbuai cumbu tak bersahabat.

Cermin...mengapa jingga terpatri hitam dan biru? Kemanakah warna yang lain? Sembunyikah dalam balutan pelangi? Oh, tidak! Cermin...jangan kau pasung penjara tanpa celah merasukiku kini. Lepas, hempas tanpa beban di setiap kau menatapku, cermin. Cermin...bangkitlah dengan buaian lembut menguntai merdu kesahajaaan perjalanan ini. perjalanan dalam jiwa dan raga tak terobati dengan sempurna dalam kelopak mawar merah.

Cermin...kini kau tetap di ujung tempat yang tak tergeser oleh matahari dan bulan di setiap revolusinya.
Cermin...tetaplah berpijak jangkah-jangkah keabadian perjalanan tiada henti.
Cermin...tetap menjadi cermin tak akan terpecah hiruk pikuk terpatri menggelegar.
Cermin...pantulan beningmu membuatku nyaman dalam menghargai diri tersakiti.
Cermin...senyuman pancaran cahaya indahmu membeningkan mata turun ke hati secara perlahan.
Cermin...kini kau mampu menjadi sahabat tanap terkuasa untuk setiap hempasan kata keluar marka.
Cermin...tak tersakiti, disakiti, tertawa canda sebening air selembut benang sutra.
Cermin...setia tanpa terminta sedikitpun, menanti buaian lembut tanganku ini, kau adalah segalanya di setiap hidup ini, cermin.

Rabu, 11 April 2012

TERPAKU

Terpaku tanpa makna

Terdiam dalam alunan kesedihan
Kini ku terjang semua dalam kebisuan
Diam tak berarti emas
Kau selalu menghujamku dengan keras
Tanpa pernah mau mengengarkan suaku

Tanpa kau tengok keadaanku
Kini kau bahagia dengan dia
Balutan tanpa makna kau ludahi
Kata-kata tak pantas kau keluarkan

Kemana dirimu yang aku kenal dulu?
Haruskah memory ini ku hancurkan?
Memory terindah di setiap nafasku
Hembusan nyawa terluka tajam
Perih ... amat sangat dalam
Kau menorehkan luka yang sama

Senin, 09 April 2012

MENGENAL CINTA PERTAMA


Masa-masa SMA adalah masa dimana Mila selalu menjadi ejekan teman-temannya. ketika teman-teman sudah memiliki pacar yang setia, kemana pun selalu berdua dan dunia hanya milik mereka berdua. Karena Mila masih belum berpikiran untuk pacaran dan hanya ingin belajar dan memperbanyak teman saja.
Hingga suatu hari yang cerah di sudut gang rumah, tiba-tiba ada sesosok makhluk yang berhasil mengalihkan perhatian Mila, ketika Mila sedang asyik membersihkan halaman rumah. Tiap hari, sosok tersebut selalu lewat depan rumah, selidik punya selidik, ternyata dia adalah salah satu pegawai penjual gorengan, yang pemiliknya sudah lama menetap dan transmigrasi ke kota, tempat Mila tinggal. Wajah cuek nan teduh namun damai, telah berhasil mencuri hati Mila secara diam-diam. Setiap melihat sosok tersebut, hati dan perasaan Mila terasa berdebar-debar tiada henti, sosok itu adalah cowok, yang bernama Arip.
Perasaan, hati dan pikiran pun menjadi gak karuan, segala yang dikerjakan, tidak pernah tenang begitu melihat Arip. Walaupun Mila masih tidak diperbolehkan pacaran sama orang tuanya, namun Mila tidak bisa membohongi perasaannya, bahwa Mila mulai suka dengan Arip, melalui teman-temannya, yang selalu berusah mencomblangkan Mila dengan Dia. Walaupun ada rasa yang tidak dapat dikatakan, namun Mila berusaha menyembunyikan rasa itu dan tetap memikirkan sekolah. Hari demi hari Mila lalui, namun wajah teduh nan cuek, selalu mengganggu pikiran dan perasaan Mila, hingga akhirnya, Mila pun mulai sering main ke tempat kost Arip dengan temannya.
Euhm…………..rasa suka yang berkembang menjadi cinta, tengah bersemi dalam diri remaja putri, yang sedang berkembang dengan istilah trend jaman sekarang “Mabuk Cinta”. Masa-masa puber mengenal cinta, benar-benar baru terasa oleh Mila, bahwa seakan-akan dunia hanya milik berdua dan orang lain hanya pengganggu saja. Semakin lama, Mila, semakin pandai mencuri waktu, hanya untuk sekedar bertemu dengan Arip diluar rumah dan semakin pandai bebohong. Lama kelamaan, keluarga Mila pun tau dan mereka tidak suka dengan Arip. Mila pun tidak mengerti, alasan apa, Mereka tidak setuju, begitu mengetahui Arip. Mila pun semakin marah dan semakin berulah dengan sikap keluarganya, hingga akhirnya mila pun jadi susah untuk diatur.
Mila dan Arip pun semakin akrab dan saling mengenal satu dengan lainnya, namun Dia tidak juga menembak Mila, karena Dia juga masih takut dengan keluarga Mila. Akhirnya cinta itu terpendam dengan rapi di hati mereka masing-masing, tanpa ada yang tahu bahwa mereka saling mencintai dan saling menyanyangi. Cerita cinta Mila pun tersimpan rapi, tanpa ada yang mengetahui sedikitpun, namun mereka tetap komunikasi seperti teman biasa.
Hingga akhirnya, waktu yang di tunggu-tunggu pun datang dengan sendirinya. Gerak Jalan Sehat yang diadakan oleh Kelurahan, tempat Mila tinggal, dimana Semua Warga Satu Kelurahan ikut, dan Mila pun ikut bersama teman-teman Kakak Mila, juga termasuk Arip. Mila pun bercanda penuh tawa bersama teman-teman Kakaknya, sebelum acara dimulai. 5 menit kemudian, acara pun dimulai dan Mila tetap bersama teman-teman Kakaknya dalam satu barisan kelompok. Ditengah jalan, tiba-tiba Arip pun mengahampiri Mila dan Dia dengan berbasa-basi untuk mengalihkan perhatian, hingga akhirnya, Dia pun menyatakan cintanya kepada Mila dengan senyum bahagia, Mila pun menerima cinta Dia dengan tersenyum malu.

Minggu, 04 Maret 2012

LOVELY HONEY

kecanduanmu menjadi obat dalam hidupku
kau selalu menyuguhkan obat yang tak pernah kukira sebelumnya
sungguh manis walau pahitnya menyelinap tiada henti

ah... kau selalu membuatku terpana tak berdaya
senyumanmu membuatku melayang tiada henti
menjajaki bumi mengarungi bersama

Template by:
Free Blog Templates