Minggu, 22 April 2012

AYAH

Malam hening kini ku terhuyung dalam hamparan angan yang terpatri oleh beningnya bintang menemani rembulan. Aku sendirian tanpa siapapun menemani di dalam gubug tua warisan Ayah ini. Mas kini lebih sering ikut istrinya diluar kota sana. Ayah, disaat aku kesepian seperti ini, kau selalu menemaniku dengan buaian lembut kasih sayangmu, yang selama ini tak pernah respect diriku ini akan kehadiranmu. Ayah, kau tak pernah mengeluh akan kesederhanaan hidup, kau selalu mengajarkan untuk tetap mensyukuri nikmat yang tiada tara dihadapan kita selama ini.

Ayah, sudah lama kau berada dalam hidup keabadian, yang ditemani oleh alam-alam bersahaja dalam peristirahatanmu. Ayah, aku tak pernah mengerti mengapa kau selama ini selalu mencegahku untuk mengikuti latihan ekskul di sekolah? Ayah tanpa pernah kau mengatakan alasan pastinya kepadaku, hingga membuat aku menjadi bingung dalam hidupku. Aku pun tertatih-tatih untuk mampu menggapai angan dan mimpiku yang tak pernah sepaham sama Ayah selama ini.

Ayah, aku ingin mewujudkan mimpiku, yang selalu berhasil kau pupuskan tanpa pernah memberikan alasan dan jawaban. Ayah tak ingin aku menjadi guru seperti anak-anak ayah yang lain, namun apa Ayah pernah tahu apa mauku? Bahwa selama ini, aku lebih sering membuat coretan pada buku pelajaranku, Ayah. Apa Ayah pernah mengetahui masalh yang selalu aku hadapi selama ini? Aku loebih sering menulis di buku diary secara sembunyi-sembunyi daripada curhat sama Ayah.

Ya, Curhat? Selama ini aku menjadi anak yang selalu dikucilkan oleh teman-temanku, Ayah. Hingga akhirnya, aku menjadi anak pendiam dan pemberontak, yang tidak pernah Ayah ketahui selama ini. Masih membekas dalam ingatanku Ayah. Ketika menginjak cawu terakhir kelas 2 SMP, Ayah sudah mulai tumbang dengan kondisi yang tidak seperti biasanya. Ayah terjatuh dalam sehat selama ini, Ayah pun sakit dan emmbutuhkan perawatan untuk kondisi Ayah. Kondisi Ayah membuatku menjadi anak labil yang tak terkontrol sama sekali. Aku pun menjadi geram tiada henti, melihat kondisi Ayah yang terkapar di kamar gubug tua ini. Anak-anak Ayah yang lain tidak ada yang peduli dan datang hanya sekedar untuk menjenguk Ayah saja.

Aku pun merutuki diriku tiada henti, aku meneteskan buliran-buliran yang mengembun dan mengalir ke pipi, ketika mendengar kecaman tak enak untuk Ayah dan ibu dari anak Ayah yang lain. Dengan keras mereka mencaci maki Ayah dihadapanku, yang membuat Ayah mengalirkan tetesan mata dalam ketidakmampuan untuk melihat lagi atas kondisi seperti ini. Ya, mereka memaki Ayah dihadapanku, yang membuatku semakin geram dengan sikap mereka.

Ayah yang sudah terhuyung dan terjatuh dari sehat, kini kondisi Ibu pun mengalami hal yang sama dengan Ayah. Aku pun semakin tidak jelas akan kelabilanku yang harus merawat Ayah dan Ibu secara bersamaan dan juga sekolahku yang makin padat menginjak kelas 3 SMP. Ayah dan Ibu seperti terhempas dalam lemparan keras yang tak mampu bertahan aku untuk menyanggahnya. Aku hanya mampu meneteskan embun di ujung pelipisku ini, yang di depan mataku terlihat jelas kondisi Ayah dan Ibu yang terhempas keras di atas ranjang tua di gubug tua ini. Hatiku ini ingin sekali teriak kencang dan keras, namun hanya tersendat dalam kerongkongan makma ini.

Ayah gubug tua ini adalah peninggalan satu-satunya yang terindah di dunia ini, yang mampu untuk meneduhkanku dari geraman, kecaman dan caci makian lolongan manusia tanpa jiwa  di luar sana. Semua kenangan tentang Ayah masih membekas dari memory kecilku di ujung sudut ini tanap ada goresan cacat luka sedikitpun selama ini. Ayah awal tahun semester 2 kelas 3 SMP adalah awal dan akhir aku dalam perjuangan menuntut ilmu dan merawat Ayah dari sakit yang udah lama menggerogoti tubuh renta tua Ayah selama ini.

Awal tahun di akhir bulan Januari 2004, pagi menyapa dengan cerah menyusup malu dibalik awan putih. Gubug tua yang biasanya cerah dan ramah menyambut, kini berubah kelam dan gelap tanpa mampu kuraih sedikitpun. Makin lama suasana gubug tua ini makin kelam dan suram tanpa semburat senyum sedikitpun. Aku yang seperti orang bodoh tak pernah mengerti apa-apa di usia labilku saat itu, semua orang menceracau tiada henti dan meneteskan embun-embun mata yang mengalir di pipi dengan sembab, sedu sedan menggema dan menggemparkan telingaku.

Aku hanya mampu terpaku menyaksikan tubuh diam terpaku di atas ranjang tua di dalam gubug tua ini. Apakah Ayah meninggal? Aku tak mampu menangis sedikitpun, aku hanya terpaku melihat orang-orang yang masuk ke dalam gubug tua tempat aku tinggal ini, melihat tubuh terbujur kaku tanpa raga, Ayah. Apakah aku bodoh atau aku tidak tahu diri? Semua berkecamuk dalam diriku saat itu juga, seperti orang linglung tanpa beban luka sedikitpun.

Ayah, kini aku hanya mampu mengenang semua yang telah Ayah berikan dan ajarkan kepadaku selama ini. Bahwa hidup ini keras dan berliku, apabila kau punya pendapat, tunjukkan bahwa pendapatmu tuch benar. Ayah, jiwa kerasku kini telah lunak oleh lingkungan dunia maya. karena kesepian akan kasih sayang dan cinta atas hidupmu selama ini, Ayah. Ayah, hatiku menangis tiada henti merutuki semua kebodohan dan kesalahankku padamu.

Ayah, aku belum mampu menunjukkan jati diriku selama ini Engkau hidup. Aku belum bisa menjadi anak yang mampu kau banggakan. 8 tahun sudah, Ayah meninggalkan hidupku selama ini di dunia. Namun, aku masih belum mampu menerka semua keinginan Ayah. Ayah, kau selalu memberiku teka-teki yang hingga kini tak mampu aku paparkan sedikitpun. Ayah, aku rindu, kangen dan kini butuh didikan keras Ayah selama ini. Ayah, apakah aku mampu menjalani kehidupan ini tanpa kehadiranmu, Ayah? Ayah tetaplah bersama dan temani aku di setiap malam-malam kesendirianku selama ini. Ayah tetaplah selalu mendampingi hatiku disaat aku terlelap terbuai mimpi malam tanpa asah. Ayah, kau begitu hebat telah membuatku tetap harus bertahan dalam kesendirian sunyi jiwa ini. Ayah, aku sayang padamu selamanya....

Mojokerto, 22 April 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates