Rabu, 18 April 2012

CERMIN

Termanung dan terpaku dalam keterdiaman menatap diri sendiri di depan cermin. Benda yang tak pernah luput dari kehidupan sehari-hari manusia. Terasa hambar dan tanpa terpikirkan oleh siapapun. Kau yang setia dan tak pernah pudar oleh lekang waktu tiada tara. Kesetiaanmu tak mampu kau tampakkan selama ini. Tanpa emosi, marah, dusta dan hampir terlupakan oleh sebagian orang, namun kau tetap berdiri kokoh di tempat semula tanpa berubah sedikit pun. HEntakan demi hentakan manusia dalam menapaki jiwa-jiwa terpukau dunia, kau menjadi saksi bisu atas pilu dan canda tawa manusia. Kesetiaanmu begitu tiada tara, tanpa mengharap balas jasa manusia.

Diam...kau begitu terdiam, tanpa berontak oleh lolongan manusia tanpa arti dan tak bersahabat. Tanpa ku sadari selama ini, kau begitu berarti dalam setiap aktivitas kehidupan manusia. Mulai dari hal terkecil hingga jenis kesibukan super duper padat untuk kehidupan manusia. Aku pun lalai, untuk berterimakasih kepada kau wahai benda tiada tara.

Cermin...kini kau tersenyum manja, dalam kemarahan jiwa beradu hati untuk menarik simpati dan empati lingkungan tanpa terpatri sanubari raga-raga tak bernyawa. Hah? Raga tak bernyawa? Mengerikan sekali ya, Cermin? Hah, aku hanya berhalusinasi tanpa tersudut oleh kebijakan dan kedustaan tempoyang dalam botol tak berfungsi. Hahaha...kini kau bebas tertawa terbahak atas kebodohanku tuk terkoyak rasa, asa dan pikiran. Cermin...ku sandurkan diri ini dalam lembayung sahaja tanpa bersua. Terpuai asmara kerendahan lantunan merdu bunga anggrek tanpa warna. Lembut membuai aroma debaran dahsyat memukau decak keheningan kelam sendu.

Terbiasa syahdu mengukir angan-angan ketidakpastian balutan hidup, hanya untuk mempertahankan ego layu. Sungguh aneh aku ini, terlalu dalam menjelajahi istilah-istilah keingintahuan di setiap jejal-jejal penghirupan burung tanpa sayap. Merdu memukau di setiap nada-nada alunan rock, mencari nyawa-nyawa terpanas demi merasuki istilah yang tak mampu diterka oleh logika. Jiah...aku seperti menari-nari dalam balutan sinar bercampur jingga, menjadi jenjang-jenjang bangunan tanpa atap untuk berteduh. Kau berhasil menertawakanku terkapar dan terkujur di atas api malam, membara relung terbuai cumbu tak bersahabat.

Cermin...mengapa jingga terpatri hitam dan biru? Kemanakah warna yang lain? Sembunyikah dalam balutan pelangi? Oh, tidak! Cermin...jangan kau pasung penjara tanpa celah merasukiku kini. Lepas, hempas tanpa beban di setiap kau menatapku, cermin. Cermin...bangkitlah dengan buaian lembut menguntai merdu kesahajaaan perjalanan ini. perjalanan dalam jiwa dan raga tak terobati dengan sempurna dalam kelopak mawar merah.

Cermin...kini kau tetap di ujung tempat yang tak tergeser oleh matahari dan bulan di setiap revolusinya.
Cermin...tetaplah berpijak jangkah-jangkah keabadian perjalanan tiada henti.
Cermin...tetap menjadi cermin tak akan terpecah hiruk pikuk terpatri menggelegar.
Cermin...pantulan beningmu membuatku nyaman dalam menghargai diri tersakiti.
Cermin...senyuman pancaran cahaya indahmu membeningkan mata turun ke hati secara perlahan.
Cermin...kini kau mampu menjadi sahabat tanap terkuasa untuk setiap hempasan kata keluar marka.
Cermin...tak tersakiti, disakiti, tertawa canda sebening air selembut benang sutra.
Cermin...setia tanpa terminta sedikitpun, menanti buaian lembut tanganku ini, kau adalah segalanya di setiap hidup ini, cermin.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates